Wednesday, 25 January 2017

Rebo Nyunda: Ambek Kapegung saparakanca

Sampurasun...
Sudah rabu lagi, ya. Ga kerasa. Kalau urang Sunda bilang ini istilah 'nyerélék'. Artinya ya itu tadi, waktu yang berlalu cepat sekali.

Seperti yang sudah saya janjikan kemarin, Rabu ini saya balik lagi dalam tema Rebo Nyunda.  Minggu kemarin saya membahas tentang arti ungkapan "Teu Uyahan".
Untuk sekarang saya mau memenuhi janji untuk membahas ungkapan 'ambek kapegung'.  Kalau dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya sama dengan dongkol. Sedangkan saparakanca itu artinya dan teman-teman. Maksudnya istilah yang menjelaskan ekspresi kemarahan bisa digambarkan dalam beberapa kata yang penggunaannya bisa  berbeda.

Ketika sedang dalam situasi ambek kapegung ini  kita (ya anggap aja gitu, masa saya kasih contoh orang lain?) tidak berani untuk menyampaikan uneg-uneg pada orang yang dituju. Akhirnya misuh-misuh ga jelas, ga fokus dalam bekerja atau mikir dan kadang nada bicara jadi betus (ketus) atau diem aja tapi keliatan ekspresi dongkolnya. Biasanya bibirnya terlihat jamedud (monyong). Kasian sih orang lain di sekelilingnya yang kena getahnya, teu mais teu meuleum, kalah katempuhan.

Hais apalagi itu? Kalau diterjemahkan per kata sulit menemukan padanan yang pas. Mais itu merupakan kata kerja dari pepes artinya orang yang membuat pepes. Begitu juga dengan meuleum, yang merupakan bentuk kata kerja dari membakar. Misalnya meuleum saté, meuleum hayam (ayam). So, bakalan aneh kalau diterjemahkan kayak gini: Ga mepes ga ngebakar.  Hahaha.... kasian Barbie, nanti tambah puyeng. Jadi ya udah alih bahasa gampang dari ungkapan teu mais teu meuleum itu ya ikutan terkena dampaknya.  O ya ada ungkapan yang mirip-mirip juga, yaitu katempuhan buntut maung (jadi terseret masalah)

Masih ada beberapa kata yang menggambarkan ekspresi kemarahan seseorang dalam bahasa Sunda. Misalnya kukulutus (merepet kadang sambil nyumpah-nyumpahin gitu) ngutruk (ngomel), baeud (cemberut/tidak tersenyum) dan paido (bentuk aktifnya maido dan pasifnya dipaido) yang artinya kena semprot dan ngocéak (ngamuk). 

O, ya dalam bahasa Sunda penggunaan kata mengenal strata atau tingkatan. Secara umum orang yang marah itu adalah nyarékan (kata dasarnya carék). Bentuk pasifnya adalah dicarekan. Nah penggunaan kata paido atau maido ini umumnya digunakan ketika objek pembicaraan adalah orang yang dituakan atau dihormati.

Kadang ada juga orang yang kalau kena marah ga ngaruh disebut bahé  carék. Cape juga ngasih tau orang kayak gini. Udah berkali-kali dikasih tau, diingatkan, mulai dari cara yang halus sampai keras tetap saja melakukan kesalahan atau memancing kekesalan. Nah, kesal sendiri bahasa sundanya itu keuheul.

Aaaah banyak sekali ya kosa kata barunya. Masih pusing? Gini aja, saya kasih beberapa contoh penggunaannya dalam kalimat, ya. Kalau masih bingung alias teu ngarti silahkan tany di komentar. Semoga saya bisa menjawab :)


Ambek Kapegung
Cing atuh tong sok ambék kapegung kitu, karunya batur nu katempuhan 
Duh coba dong jangan suka marah gitu, kasian orang lain jadi ikutan repot

Betus
Ari ngobrol jeung  kolot teh babahasaan sing sopan, tong betus kitu ah, awon.
Kalau ngobrol sama orang tua, gunakan kata-kata yang sopan. Jangan ketus gitu, dong. Jelek.

Jamedud
Ih meni jamedud si Ené ng, mah. Jadi leungit geulisna.
Ih kok manyun  si Enéng? Jadi ilang cantiknya.

Teu mais teu meuleum
Gusti, ngimpi naon atuh urang, téh? Teu mais teu meuleum jadi kabawa ripuh
Ya Tuhan, semalam mimpi apa saya? Jadi ikutan repot.

Kukulutus
Ari barang gawé  téh tong sok bari kukulutus bisi cilaka
Kalau kerja jangan sambil ngomel, nanti celaka lho.

Ngutruk
Kunaon si  nyai? Ti tadi teu eureun-eureun  ngutruk. Keuheul ka saha?
Kenapa si Nyai? Dari tadi ga berhenti ngomel. Lagi kesel sama siapa?

Baeud
Si Ujang baeud waé ti tadi pedah teu meunang ulin ku bapana
Si Ujang cemberut aja dari tadi, karena ga boleh main sama bapaknya

Paido
Aing mah meni watir, isuk-isuk geus dipaido ku dunungan.
Kasian deh gue, pagi-pagi udah dimarahin sama si Bos.

Carék
Si éta mah babari leweh, teu kaop dicarekan saeutik. 
Dia bawaannya cengeng, ga boleh kena marah dikit.

Bahé Carék
Si éta mah bahe carék, nepi bosen mamatahanna.
Dia orangnya susah dikasih tau, sampai bosen buat menasihatinya.

Keuheul
Lila-lila urang keuheul yeuh
Lama-lama saya kesel nih

Kalau diperhatikan beberapa kata yang mengandung huruf e ada yang ditulis dengan é . Huruf  ini disebutnya e curek. Penyebutannya pun akan beda dengan huruf e dan eu. Huruf é  dibaca seperti e pada kata ember. Sedangkan e seperti ini diucapkan seperti e pada kata bosen. Lalu bunyi eu diucapkan seperti bunyi e pada kata memeriksa. Makanya jangan sampai salah ketika akan menyapa seorang gadis Sunda dengan panggilan Eneng. Jangan sampai terdengar seperti énéng karena yang ini artinya adalah anak kerbau. Kan bete kalau disapa gitu.

Selamat senam  bibir untuk berlatih mengucapkan kata-kata dalam bahasa Sunda :)  By the way kalau ada yang mau menambahkan dengan kosa kata lain yang terkait, silahkan, ya.

2 comments:

  1. Br tau ada rebo nyunda di sini... Suka... Buat belajar...

    ReplyDelete
  2. "Ulah jamedud nya teh, beusi ilang geulisnya" hehehe bener gak tuh bahasanya, teh?

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan dan jangan meninggalkan link hidup pada kolom komentar ya para blogmate

Popular

Beli domain murah disini

Total Pageviews