Sunday, 10 July 2016

Review Film Sabtu Bersama Bapak

Review Film Sabtu Bersama Bapak - Kalau ditanya siapa tokoh utama dari film Sabtu bersama Bapak, mestinya  yang Jadi tokoh utamanya selain Bapak (meski hanya berkomunikasi  via rekaman video) adalah Bu Itje, Satya dan Cakra. Waktu tau novelnya Adhitya Mulya ini diangkat ke layar lebar, saya langsung nandain kalau filmnya harus saya tonton. I did it!

As ussual, namanya juga film yang diadaptasi dari novel. Saya tau diri aja kalau ekspektasi saya setelah membaca novel ini belum tentu sama persis dengan filmnya. Sudut pandang sutradara saat menggali ide cerita yang diangkat plus eksplorasi para aktor/aktris saat berakting bakal memengaruhi film yang ditayangkan.  Apalagi dengan durasi yang terbatas, ga semua cerita di novel bisa diangkat ke layar bisokop. Jadi sinetron? I choose not to see :D

Jadi gimana cerita versi layar lebar dari novel setebal 277  halaman itu?

http://www.blogmateindonesia.com/2016/07/review-film-sabtu-bersama-bapak.html

This is it...

Judul Film: Sabtu Bersama Bapak
Sutradara: Monty Tiwa
Produksi : Max Picture (2016)
Para Pemain: Abimana Aryasatya (Bapak Gunawan) Ira WIibowo (Bu Itje). Arifin Putra (Satya), Deva Mahenra (Cakra), Acha Septriasha (Rissa), Sheila Dara Aisha (Ayu) Jennifer Arnelita (Wati Ernest Prakasa (Firman).

Harapan hidup  yang pendek, membuat Pak Gunawan berpikir keras, mencari cara agar tetap bisa mendampingi anak-anaknya sampai dewasa dengan membuat rekaman video yang akan diputar setiap hari sabtu. Dari pelajaran yang didapatkan dari film, Satya dan Cakra mencerna nasihat dengan cara berbeda. Meski keduanya tumbuh dengan karakter yang bertolak belakang dan nasib yang berbeda, keduanya sama-sama mencintai dan menyayangi Bu Itje, sesuai pesan Pak Gunawan, kalau Surga ada di kaki Ibu.

Satya dan Cakra masing-masing sukses dalam dunia karirnya, tapi tidak tidak dalam menjalin hubungan cinta. Sepintas, Satya terlihat lebih sukses. Menikahi Rissa yang cantik dan diakrunia dua putra Ryan dan Miku (di novelnya sih diceritakan punya 3 anak, Dani ga diceritakan di film) dan memiliki karir cemerlang di sebuah perusahaan luar negeri. Sementara Cakra memiliki karir di sebuah bank, sebagai seorang Deputy Micro Finance. 

Kalau Satya dihadapkan pada masalah rumah tangga yang 'dipaksakan ideal' menurut versinya, Cakra mula terintimidasi dengan status jomblonya. Dibully di kantor oleh teman dan ank-anak buahnya, juga terus ditanyai ibunya.

Sementara kedua anak-anak Pak Gunawan sibuk dengan karir dan cintanya, Bu Itje menutupi masalahnya sendiri demi berusaha memenuhi janjinya pada Pak Gunawan untuk mengantarkan semua anak-anaknya menikah. 


Casts

Pak Gunawan (Abimana Aryasatya):

Dari suara, oke lah. Pak Gunawan menunjukan wibawanya sebagai seorang ayah. Tapi untuk make up, kurang meyakinkan kalau beliau ini sedang sakit serius. Pak Gunawan terlihat terlalu bugar, tidak terlihat salah satu scene dalam film ini yang menunjukkan Pak Gunawan terliha semakin lemah direcoki penyakit kanker yang sudah masuk stadium lanjut. Mungkin maksudnya Pak Gunawan  ingin terlihat tegar dan menularkan aura pantang menyerah buat anak-anaknya?  Masih nanggung perannya Abimana sebagai Bapak di sini.

Bu Itje (Ira Wibowo)

Bu Itje adalah tipikal seorang mama dan mertua yang care dan loveable. Istri yang menyenangkan, Mama yang ngangenin dan mertua idaman.  Tidak mau menyusahkan anak tapi memastikan anak-anaknya tidak dalam kesulitan. Sosok kalemnya  sudah cukup diperankan oleh Ira. Not bad.

Satya (Arifin Putra)

Dibanding Cakra, Secara fisik Satya diseting mengikuti penampakan fisik bapaknya. Selain memang anak sulung dari pasangan keluarga Gunawan ini sangat memuja Bapak dan ingin se-ideal sosok pujaannya. Well, sebagai seorang suami yang sukses dan memiliki karir cemerlang -  dan latar sebagai seorang  playboy yang punya modal tampang dan fisik keren - sudah memenuhi syarat. Sayangnya di film ini kurang tergambarkan karir Satya sebagai seorang engineer di lepas pantai seperti yang digambarkan di novel.

Rissa (Acha Septriasha)

Peran  istri yang dimainkan oleh Acha di film ini ga sepenuhnya gagal. Tapi saya ga melihat tertekannya Rissa dengan tuntutan ini itu dari Satya sebagai Mr Perfectionist, kecuali ketika adegan Ryan dan Miku hilang dan diculik dan panik mencarinya. Ketika menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga ebih terkesan enjoy, bukan lelah. Rissa pun boleh lelah, Mas!

Saka (Deva Mahenra)

Saya dapat lagi feelnya Deva Mahenra - yang identik dengan peran Bastian di sitkom Tetangga, Kok Gitu sih? - di film ini. Malah jauh lebih baik dibanding perannya yang pernah saya tonton di film Tjokro: Guru bangsa yang lebih serius.  Kekonyolan Saka waktu mendekati Ayu, meracau ga jelas ketika salting salah menyebutkan dirinya seorang pemalu malah (jadi seorang yang besar kemaluan) dan adegan lainnya ketika belanja pakaian di butik sukses memancing ledakan tawa penonton. Deva ini salah satu bintang yang menghidupkan film ini.

Raport Tokoh Lainnya

Selain Saka, penyelamat lainnya yang menghidupkan film ini adalah karakter Wati yang diperankan oleh  Jennifer Arnelita (Wati) dan  Ernest Prakasa (Firman) yang doyan ngebully bossnya karena masih jomblo itu. Scene dari Wati yang saya suka adalah ketika ekspresifnya Wati waktu menemani Saka berbelanja di butik dan ke-kepoan luar biasanya saat mencari tahu status hubungan Ayu dengan Firman, pesaing Saka di kantor sambil memainkan pete. Intonasi, ekspresi dan body languagenya juara. Kalau punya teman kantoran kayak gini, lucu kayaknya, ya? heuheu... Ernest juga cukup oke, meski ga segokil di film-film lainnya. Masih kurang kadarnya, Nest. But still you are on of the stars.

Sheila Dara Aisha gimana? Pendatang baru yang memerankan Ayu  ini kurang meyakinkan saya ketika ia akhirnya tiba-tiba mau jalan sama Saka. Padahal sebelumnya luar biasa ilfil karena melihat Saka yang aneh dan bayangan ketakutannya kalau jadian sama Saka. Kalau saja ada satu scene yang meyakin titik balik kenapa Ayu ujug-ujug mau membuka hati sama Saka, mungkin feelnya bakal beda.

Elemen Lain

Seting utama film ini mengambil 3 tempat. Bandung, Jakarta dan Perancis. Kecuali jembatan Pasupatinya, saya penasaran dengan rumah lama bergaya Belanda yang jadi tempat tinggal Bu Itje ini. Saya penasaran, rumah siapa ya, yang dipinjam di film ini? Kira-kira bakal ngehits kayak seting tempat film AADC 2 ga, ya?

Jangan lupain juga lagu lawasnya Iwas Fals, yang jadi Theme Song film ini. Kalau saya sih, sukaaa, lagunya dalam banget. Kayaknya yang udah nonton film ini bakal sering-sering muter lagunya, entah lewat Youtube atau playlsit lainnya di gadget masing-masing. Ga akan bosen... tapi siapin tissuenya yang banyak, ya.

Mencari apa yang dicari

Menunggu apa yang ditunggu

Aku merasa dikejar waktu

Moral Story

Terlepas dari minus yang film ini terasa nanggung, pesan dari film ini tetep dapet, kok. Pesan  Bapak ketika nilai seseorang tidak dilihat dari penampilan fisik, atau adegan ketika Satya bermimpi bertemu dengan bapaknya dan berpelukan. Scene yang bisa bikin penonton termehek-mehek di sela adegan lain yang kerpa memancing derai tawa penonton lain.

Dibanding nonton filmnya, saya lebih banyak berurai air mata waktu membaca novelnya. Pengalaman ini bisa berbeda lho sama yang lain, apalagi kalau punya pengalaman pribadi, mungkin bisa lebih mengharu biru.

Yang lainnya? Kalau saya runut semuanya di sini jadi spoil dong :) Banyak pesan bagus untuk Ayah, ibu, suami-istri (termasuk calon suami-istri) dan anak tentang nilai-nilai kebaikan dalam membina keluarga. 

Quote

Kalau mau puas nyontek quote kerennya, ya baca deh bukunya. Beberapa quote yang keren dari film Sabtu Bersama Bapak adalah berikut ini.
Ada kata lain di kamus yang melebihi rindu?

Kayaknya enggak ada

Berarti saya ga bisa jawab pertanyaanmu - Obrolan Pak Gunawan dan Bu Itje
Melengkapi saya itu tugas saya, bukan orang lain.
Menjalin hubungan itu butuh dua orang yang kuat. Menjadi kuat itu tanggung jawab masing-masing - Saka.
Kalau ga rela film ini cepat turun layar (mengingat banyak film Indonesia yang tayang dalam waktu berdekatan di bioskop), pesan saya buruan tonton film ini, ya. Kelamaan kalau nunggu tayang di tv. Terlepas dari minus dan kelamahan film lainnya, film ini masih layak tonton barengan keluarga, teman atau gebetan (uhuk).
http://www.blogmateindonesia.com/2016/07/review-film-sabtu-bersama-bapak.html

19 comments:

  1. spoiler banget nih mbak... Ulasanya lengkap sih...:)

    ReplyDelete
  2. Hihihi endingnya ga saya kasih tau. Cuma kasih raport aktingnya aja :)

    ReplyDelete
  3. Jadi pingin (pinjem ehh...) baca novelnya Aditya Mulya.

    Kerren teh!

    Hobi nontonnya bermanfaat banget krn bisa membantu saya (yg dompetnya cekak) buat tetap apdet perfileman indonesia.


    Lanjuuutt teh Efii....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah sayang kalau cuma baca reviewnya, nonton dong teh hehhehe

      Delete
  4. saya belum nonton teh.... next skejul deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus nonton, Mbak. Jangan sampai nangis bombay gara-gara filmnya keburu hiatus terus ga sempet nonton *kompor*

      Delete
  5. Pingin banget nonton film ini...juga baca novelnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagusnya , novelnya dulu. Tapi kalau ga memungkinkan gapapa juga filmnya duluan. Takut keburu turun layar.

      Delete
  6. Meweknya ga ditulis teh Effi nonton film ini,heheh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyakan ketawanya sih kalau aku pas liat film ini, Mbak :)

      Delete
  7. Meweknya ga ditulis teh Effi nonton film ini,heheh...

    ReplyDelete
  8. Siapin tisu :D ceritanya dalam dan menyentuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mak. Kalau temanku malah nangis liat film ini. pengalaman pribadijuga bisa memengaruhi feel waktu nonton film ini.

      Delete
  9. Hmm..jadi pengen nonton..btw ini blog sm Mak Tian ya? Pantes td di FB pd bisa nebak. Xixixi. *oot

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iy, ini blog milik kami berdua, Mak. Hihihi kalau blogmatemu siapa, mak? *ikutan OOT*

      Delete
  10. jadi penasaran, aku belum baca novelnya dan enggak tahu bisa nonton filmnya enggak... suami udah masuk kerja soalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nonton bareng temen aja, mak. Atau weekend/malem abis suami kerja heheehe.

      Delete
  11. hmmm, recomended nih untuk di tonton . kalau terlanjur baca ulasan sinopsisnya jadi bikin penasaran sama filmnya
    PUBLIC SPEAKING SEMARANG

    ReplyDelete
  12. walaupun cuma sekali nonton, berasa sedih sekali... bagus banget emang filmnya..

    inti nya kita sebagai manusia tidak hanya menyyangi ibu saja. tapi menyyangi ayah juga

    Semoga kita jangan sampai lupa sama orangtua kita sendiri

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan dan jangan meninggalkan link hidup pada kolom komentar ya para blogmate

Popular

Beli domain murah disini

Total Pageviews